MENSYUKURI KEMERDEKAAN
Dr. Tri Prasetiyo Utomo, M.Pd.I.
وَاِذْ قَالَ مُوْسٰى لِقَوْمِهٖ يٰقَوْمِ اذْكُرُوْا نِعْمَةَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ جَعَلَ فِيْكُمْ اَنْۢبِيَاۤءَ وَجَعَلَكُمْ مُّلُوْكًاۙ وَّاٰتٰىكُمْ مَّا لَمْ يُؤْتِ اَحَدًا مِّنَ الْعٰلَمِيْنَ
Artinya: (Ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, “Wahai kaumku, ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika Dia mengangkat nabi-nabi di antaramu, menjadikanmu (terhormat seperti) para raja, dan menganugerahkan kepadamu apa yang belum pernah Dia anugerahkan kepada seorang pun di antara umat yang lain. (Alquran; surat al-Maidah ayat 20).
Kemerdekaan merupakan anugerah dari sang pencipta yang sungguh agung dan luar biasa. Hadirnya anugerah yang agung tersebut tentu dibarengi dengan usaha dan ikhtiar yang sungguh-sungguh. Dari usaha yang sungguh-sungguh maka akan hadir uluran Tangan Tuhan. Demikian beberapa bunyi UUD 1945, yaitu atas berkat rahmat Allah yang maha esa dan dengan didoronhkan keinginan yang luhur.
Merdeka bermakna, bebas (dari penjajahan), berdiri sendiri, tidak terkena atau lepas dari tuntutan, tidak terikat dan tidak bergantung pada orang lain. Dari beberapa makna tersebut menunjukan adanya kebebesan menguasai dan mengatur diri sendiri atas anugerah yang diberikan Allah kepada hambanya. Makna kemerdekaan ini tentu relevan dengan tafsir ayat di atas (al-Maidah ayat 20), yaitu mereka dijadikan Allah menguasai diri mereka masing-masing, bebas mengatur diri dan keluarganya, serta menikmati kesejahteraan. Ini imbas dari setelah mendapat penindasan oleh penjajah yang membatasi gerak, langkah, dan kebebasan dalam mengelola anugerah Allah (alam semesta) keluarga, anak, istri, dan saudara.
Sidang jumat rahimakumullah. Sudah seyogianya sebagai warga negara yang baik untuk bersyukur atas kemerdekaan. Ada beberapa amal yang bisa dijadikan wasilah mensyukuri kemerdakaan, yaitu;
Pertama, menghiasi hidup dengan perilaku taqwa. Menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya disebut taqwa. Tetapi ada banyak manifestasi taqwa yang perlu dihujamkan dalam setiap sendi kehidupan. Taqwa dalam keluarga senantiasa mendidik keluarga untuk melakukan kebajikan. Mendidik keluarga dengan baik menjadi embrio lahirnya generasi emas. Ini tentu relevan atau nyambung terciptanya negara yang aman, damai, dan sejahtera. Akan menjadi hambatan dan kendala yang nyata bila pengelola Pendidikan efektif mencanangkan karakter akhlak mulia, bila tidak didukung dari keluarga yang terdidik dengan baik. Perlu diingat, faktor genetis, nasab, dan keluarga memiliki pengaruh yang besar terhadap perkembangan mental manusia. Oleh karenanya, mari gayung bersambut mendidik keluarga dengan nilai-nilia taqwa. Nilai-nilai taqwa tersebut dapat terapkan dengan mengajak salat, membaca alquran dan mendalami maknanya, mengajarkan ihsan (kebajikan baik secara spiritual maupun sosial).
Keluarga menjadi madrasah awal untuk membentuk perilaku akhlak al-karimah. Selaras dengan peribahasa yang menyatakan, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, artinya perilaku anak tidak jauh beda dengan dari mana dia dilahirkan (keluarga, lingkungan, madrasah, dan bimbingan seorang guru). Maka sudah seyogyanya sebagai orang tua untuk mendidik keluarganya dengan nilai taqwa. Disampaikan oleh beberapa orang bijak, bahwa kesuksesan seseorang dipengaruhi oleh orang tua atau keluarga. Misalkan, nabi Muhammad panutan kita lahir dari keluarga yang terhormat. Keluarga penjaga ka’bah, nasabnya terjaga dari perbuatan keji dan munkar. Maka lahir seorang nabi akhir zaman yang berbudi luhur, akhlak mulia, cerdas, dan pemimpin umat manusia. Maka, dari keluarga yang baik maka lahir generasi emas. Mari kita isi syukur atas kemerdekaan ini memberi rezeki yang baik terhadap keluarga, maka lahir pula generasi baik emas.
تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا ، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ
Artinya: Wanita dinikahi karena empat hal, karena agama, harta, kecantikan, dan nasab (keturunannya). Maka pilihlah agamanya maka akan menguntungkan kamu.” (HR Abu Dawud).
Kedua, cinta tanah air dalam bingkai kemaslahatan. Membangun sikap cinta tanah air menjadi bagian syukur atas kemerdekaan. Banyak ulama-ulama terdahulu untuk memperjuangkan kemerdekaan republik Indonesia, diawali dengan membangkitkan perasaan atau sikap cinta tanah air. Karena dari sikap cinta tanah air akan tumbuh jiwa patriot berjuang untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). KH. Wahab Chasbullah tepatnya pada tahun 1916 (sepuluh tahun sebelum NU Lahir) menciptkan syiir lagu penyamangat cinta tanah air, yaitu syubbanul wathon. Lagu ini dikenal juga dengan yalal wathon hubbul waton minal iman. Secara sederhana pencipta mengajak segenap masyarakat untuk cinta terhadap tanah air. Cinta tanah air sebagian dari iman. Jangan halangkan nasibmu, jangan berpangku tangan, isi kemerdekaan dengan segudang prestasi. Minimal dapat memelihara bila belum bisa memberi jangan merusak fasilitas umum apalgi berbuat kemungkaran. Sungguh Allah menyintai terhadap hamba yang berbuat kebajikan. Kemudia disusul kalimat yang yang sangat membangkitkan semangat sekaligus intropeksi diri, yaitu setiap orang yang datang dalam keadadan sombong, makai ia akan menemui kebinasaan. Artinya siapapun yang berlaku semena-mena, melawan hukum, tidak tertib, tidak taat, merusak karena kesombongannya makan pasti akan menemui kebinasaan.
فَسَجَدَ الْمَلٰۤىِٕكَةُ كُلُّهُمْ اَجْمَعُوْنَۙ اِلَّآ اِبْلِيْسَۗ اِسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكٰفِرِيْنَ قَالَ يٰٓاِبْلِيْسُ مَا مَنَعَكَ اَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ ۗ اَسْتَكْبَرْتَ اَمْ كُنْتَ مِنَ الْعَالِيْنَ
Artinya: Lalu, para malaikat itu bersujud semuanya bersama-sama, kecuali Iblis. Ia menyombongkan diri dan termasuk golongan kafir. (Allah) berfirman, “Wahai Iblis, apakah yang menghalangimu untuk bersujud kepada yang telah Aku ciptakan dengan kedua tangan-Ku (kekuasaan-Ku)? Apakah kamu menyombongkan diri ataukah (memang) termasuk golongan yang (lebih) tinggi?” (QS. Sad ayat 73-75).
Ketiga, sportivitas keadilan dan kejujuran yang dituangkan dalam lomba peringatan 17 agustus. Momentum peringatan kemerdekaan identik dengan aneka perlombaan. Banyak cara dilakukan untuk memeriahkan momentum ini. Melalui berbagai perlombaan diharapkan dapat membangun sportivitas dalam mencapai kemenangan. Panjat pinang misalnya, memberikan gambaran betapa pentingnya kerjasama antar sesama untuk mencapai puncak kemenangan. Tidak akan bisa mencapai puncak kemenangan tanpa adanya kerjasama, bahu membahu, dan tolong menolong antar sesama menjadi kata kunci kemenangan. Alquran memberikan penegasan dalam hal ini, tertuang dalam surah al-Maidah ayat 2, ayitu:
ۘ وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۖوَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ
Artinya: Tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat berat siksaan-Nya. (QS. al-Maidah ayat 2).
Keempat, menghiasi hidup dengan aneka cahaya. Momentum kemerdekaan juga hadir pernak-pernik cahaya lampu di sekitar kita. Kerlap-kerlip lampu penghias sepanjang jalan memang sungguh memukau setiap mata yang memandang. Suasana haru berdecak kagum hadir melihat indahnya kilau lampu 17 agustus. Ini mengisyaratkan hidup harus memberi cahaya. Seberapa kecil cahaya itu akan memberi manfaat. Apalagi cahaya tersebut hadir pada kondisi gelap gulita, maka akan sangat tampak seberkas cahaya tersebut. Dalam filsafat jawa disampaikan, urip iku urup. Artinya kehidupan manusia itu harus memberi manfaat kepada yang lainnya. Jangan sampai hidup ini menjadi masalah, beban, dan kemudharatan bagi orang lain.
هُوَ الَّذِيْ يُصَلِّيْ عَلَيْكُمْ وَمَلٰۤىِٕكَتُهٗ لِيُخْرِجَكُمْ مِّنَ الظُّلُمٰتِ اِلَى النُّوْرِۗ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِيْنَ رَحِيْمًا
Artinya: Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan para malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), agar Dia mengeluarkan kamu dari berbagai kegelapan menuju cahaya (yang terang benderang). Dia Maha Penyayang kepada orang-orang mukmin. (QS. al-Ahzab ayat 43).
Wallahua’lam bi showab.

Komentar
Posting Komentar