MANUSIA RAHMATAN LIL’ALAMIN

Dr. Tri Prasetiyo Utomo, M.Pd.I. Khotbah Idul Adha 1445 H di Masjid Subulusalam
وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ Artinya; Kami tidak mengutus engkau (Nabi Muhammad), kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam. (QS. Al-Anbiya’ ayat 107). Kehadiran nabi Muhammad merupakan anugerah Allah swt kepada umat manusia. Anugerah tersebut identik dengan ungkapan qur’ani, yakni rahmatan lil’alamin. Kehadiran nabi Muhammad menjadi anugerah bagi alam semesta, yang mencakup seluruh umat manusia, tumbuhan, hewan, dan jin. Semua makhluk di alam semesta mendapat manfaatnya. Kemanfaatan tersebut berupa, nabi Muhamad menjadi cahaya ketauhidan, cahaya moral, dan cahaya ilmu yang membimbing manusia kearah martabat peradaban insan rahmmatan lil’alamin. Kepribadian nabi sebagai figur teladan dapat dilihat dari ucapan dan perbuatannya. Selaras dengan pesan yang tertuang dalam alquran, bahwa umat Islam meneladani rasul (Muhammad saw) untuk menjadi penebar rahmat terhadap alam semesta. Tafsir maragi dalam Nurti Budiyanti memaknai surah al-anbiya’ 107, yakni tidaklah aku mengutus engkau Muhammad dengan al-Qur’an ini dan yang serupa dengan itu berupa syari’at dan hukum yang menjadi pedoman kehidupan bahagia di dunia dan akhirat, melainkan sebagai rahmat dan petunjuk bagi kehidupan mereka di dunia dan akhirat. Sementara itu Quraish Shihab memberikan penjelasan, Rasul adalah rahmad. Terkandung makna, bukan saja kedatangannya yang membawa risalah atau ajaran, tetapi sosok dan kepirbadiannya merupakan figur rahmat yang dianugerahkan Tuhan kepada nabi. Dengan demkian, nabi diutus tidak semata-mata membawa rahmat, tetapi menegasi; nabi hadir dan diutus menjadi rahmat bagi seluruh alam. Seorang muslim diharapkan menjadi rahmat bagi alam semesta. Perintah ini tertuang dalam surah Ali ‘Imran ayat 159, sebagai berikut; فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَمْرِۚ فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ Artinya; Maka disebabkan rahmat Allah-lah, engkau berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau berlaku keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan (itu). Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya. Ayat di atas memberikan informasi, bahwa sikap lemah lembut nabi kepada kaum muslimin khususnya meraka yang telah melakukan kesalahan pada perang Uhud. Pada situasi tertentu (bermuamalah dengan masyarakat) terdapat banyak hal yang mengundang emosi atupun meluapkan amarah. Tetapi terdapat banyak rahmat Allah pula yang menjadikan manusia bersikap lemah lembut dan memaafkan. Momentum idul adha atau hari raya kurban yang mulia ini, seyogianya kaum muslimin untuk meneladani sikap dan perbuatan nabi Muhamad, yang tertuang dalam surah Ali ‘Imran di atas. Pertama, disebabkan rahmat Allah engkau berlaku lemah lembut. Lemah lembut merupakan perangai yang luhur, tidak bersikap keras, tidak juga berhati kasar, pemaaf, dan bersedia mendengar saran dari orang lain. Tidak jarang sebagian dari manusia, bila sudah memiliki power sosial, ekonomi, dan jabatan tertentu sulit untuk menerima pendapat atau masukan dari orang lain. Oleh karena itu momentum idul kurban, kurbankanlah nafsu strata sosial, nafsu kekuatan ekonomi, dan jabatan diganti dengan orientasi perintah Allah, yakni kebajikan dan kebenaran. Pesan untuk berlaku lemah lembut disusul dengan kalimat; sekiranya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Keadaan ini ditunjukkan oleh perilaku para sahabat-sahabat nabi. Para sahabat selalu di sekeliling beliau, senang bersamanya dan tidak jemu-jemu mendengar sabda nabi saw. Semua merasa mendapat kehangatan nabi saw, walau semua mendapatkannya tapi tidak mengurangi kehangatan bagi yang lainnya. Ini diumpamakan cahaya matahari, semua makhluk mendapat kehangatannya.
Kedua, maafkanlah kesalahan-kesalahan meraka. Interaksi sosial dengan masyarakat tidak mungkin manusia lepas dari kesalahan. Oleh karenanya, memiliki karakter memaafkan menjadi kunci keberlangsungan hidup. Sebagian agamawan memberikan keterangan, bahwa memaafkan dapat memperbaiki hubungan, memanjangkan umur, dan mempererat ukhuwah, serta menjaga kesehatan bagi palakunya. Alquran memberikan kabar bahagia terhadap seseorang yang memiliki sikap pemaaf. Ini tertuang dalam surah al ‘Imran ayat 133-134; ۞ وَسَارِعُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَۙ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ Artinya; Bersegeralah menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga (yang) luasnya (seperti) langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan. Agamawan memberikan keterangan, bahwa terdapat tiga fase atau derajat dalam memaafkan. 1) Fase mampu menahan amarah وَالْكٰظِمِيْنَ kalimat ini bermakna, penuh dan menutupnya dengan rapat. Diumpamakan sebuah wadah yang penuh dengan air lalu ditutupnya dengan rapat agar tidak tumpah. Relevansinya dengan memaafkan, yakni masih tersimpan perasaan tidak bersahabat memenuhi rongga dada yang bersangkutan. Pikirannya masih menuntut balas, tetapi ia tidak memperturutkan ajakan tersebut dan beursaha menahan amarah. Usaha untuk menahan diri sehingga tidak lahir ucapan kasar dan perbuatan buruk merupakan fase pertama memaafkan. Sedangkan fase 2), yakni memaafkan. Memaafkan bermakna menghapus bekas luka hatinya akibat kesalahan orang lain. Pada fase ini yang bersangkutan menghapus luka-luka, seakan-akan tidak pernah terjadi kesalahan, walaupun akan meninggalkan bekas luka. Sedangkan fase 3), yakni tidak sekadar menahan amarah dan memaafkan tetapi berbuat kebajikan kepada orang yang pernah melakukan kesalahan. Ketiga, ampunan Allah swt terhadap dosa dan kesalahan. Ampunan Allah terhadap dosa dan kesalahan hamba berkaitan dengan amal kebajikan. Artinya, manusia tidak bisa lepas dari dosan dan kesalahan oleh karena itu jika melakukan kesalahan maka segera susul dengan kebajikan. Ini relevan dengan hadis yang menerangkan, bahwa;Bertakwalah kepada Allah di manapun anda berada. Iringilah perbuatan dosa dengan amal kebaikan, karena kebaikan itu dapat menghapusnya. Serta bergaulah dengan orang lain dengan akhlak yang baik” (HR. Ahmad 21354, Tirmidzi 1987). Momentum idul kurban, mari melakukan amal kebajikan dengan menyembelih hewan kurban semampunya. Ada yang memiliki kemampuan berkurban sapi atau lembu, kambing, ayam, dan seterusnya. Pesan ulama klasik, minimal memberikan sedekah berupa kebajikan sekecil apapun pada momentum idul adha. Keempat, bermusyawarah dalam memutuskan sebuah perkara. Musyawarah terambil dari bahasa Arab, yakni syura kemudia diserap dalam bahasa Indonesia, yang berarti berunding dan berembuk. Tujuan dari musyawarah tentunya untuk mencari solusi atas masalah yang sedang dihadapi. Menyatukan berbagai pendapat yang berbeda sehingga sampai pada pendapat yang benar dan baik. musyawarah bukan meminta nasihat kepada orang lain, tetapi adanya nasihat timbal balik melalui diskusi. Tentu ini sesuai dengan pesan alquran, yakni surah al ‘asr; Artinya; saling menasihati untuk kebenaran dan kesabaran. وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ ࣖ Kelima, komitmen atau membulatkan tekad terhadap hasil musyawarah. Keputusan yang sudah diambil dalam musyawarah menjadi komitmen bersama untuk dilaksanakan. Tidak menutup kemungkinan terdapat sebagian orang yang secara sembunyi-sembunyi mengingkari hasil musuyawarah. Oleh karena itu komitmen dalam malaksanakan hasil musyawarah bagian dari manggapai rahmat Allah swt. Keenam, bertawakallah kepada Allah swt. Melaksanakan keputusan sambil bertawakal kepada Allah, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya. Tawakal secara umum dimaknai sebagai pasrah kepada Allah swt. Diksi pasrah kadangkala diartikan sebagai sikap tidak melakukan apa-apa, tetapi tawakal bermakna melakukan secara sungguh-sungguh dengan mengharap ridha Allah swt. Tawakal merupakan keadaan dan tingkah agung. Tawakal meliputi aspek lahir dan batin. Secara lahiriah taat kepada Allah swt, sedangkan batiniah tidak menentang-Nya. Islam bermakna tunduknya seluruh anggota tubuh, sedangkan sikap tawakal adalah ketundukan hati. Islam laksana tampilan lahiriah, sedangkan tawakal menjadi aspek batiniah. Maka, melaksanakan perintah Allah swt dan berserah diri terhadap ketentuan-Nya menjadi pemaknaan terhadap taqwallah. Ciri orang yang bertawakal, yakni beriman dan melaksanakan kewajibannya sebagai hamba (Ibnu ‘Athaillah al-Sakandari). Keteguhan hati atas dasar Iman, yakni melakukan ketentuan-ketentuan sesuai sunatullah dan berusaha secara maksimal atas cita-cita, kebulatan tekad, dan tujuan hidup berupa kebahagiaan hidup dunia akhirat menjadi manifestasi tawakal kepada Allah swt. Momentum idul adha yang penuh keberkahan ini, mari berupaya secara maksimal untuk menggapai cita-cita menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesam melalui pemyembelihan hewan kurban. Sebagaiman hadis dari Aisyah, bahwa; tidak ada satu amalam yang dikerjakan anak Adam (manusia) pada hari raya idul adha yang lebih dicintai oleh Allah swt dari menyembelih hewan kurban. Karena hewan itu akan datang pada hari kiamat dengan tanduk-tanduknya, bulu-bulunya, dan kuku-kuku kakinya. Dadrah hewan itu akan sampai di sisi Allah sebelum menetes ke tanah. Karenanya, langkahkanlah jiwamu untuk melakukannya. (Hadis Hasan, Riwayat al-Tirmidzi: 1413 san Ibn Majah: 3117). Wallahua’lam bi showab

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pejuang Ende

PERAN PENYULUH DALAM MENGAWAL MANDATORI HALAL