International Conference on Islam, Law, and Society
Konferensi internasional dengan tema Islam, Hukum, dan Masyarakat yang di selenggarakan oleh Forum Direktur Pascasarjana (FORDIPAS). Forum ini mengundang seluruh civitas akademik Pascasarjana se Indonesia, baik PTKIN maupun PTKIS. Tema yang diusung dalam konferensi ini, reconstructing religion and law for equed humanity and sustainable peace.
Konferensi yang dihadiri oleh Direktur Pascasarjana se Indonesia, wakil direktur, dan kepala program studi serta civitas akademik lainnya. Pada konferensi yang cukup bergengsi tersebut, hadir delegasi dari Program Pascasarjana Universitas Islam Tribakti Lirboyo Kediri. UI Tribakti dihadiri oleh Dr. Tri Prasetiyo Utomo, M.Pd.I. selaku Kepala Program Studi S2 Pendidikan Agama Islam.
Salah-satu sub tema konferensi, yakni pendidikan Islam. Pendidikan menjadi media utama dalam Pembangunan masyarakat secara umum. Masyarakat yang berperadaban tidak lepas dari peran serta pendidikan. Oleh karena itu pendidikan terus mengalami perkembangan untuk menghadirkan desain pendidikan yang mampu menjawab dinamika sosial di masyarakat. Isu yang sedang hangat dan menggeliat, yakni indeks kerukunan umat beragama. Terdapat beberapa narasumber yang menyampaikan pentingnya kerukunan atau menjaga kerukunan dalam hubungan sosial masyarakat. Upaya untuk menciptakan kerukunan tersebut, yakni melalui lokal wisdom. Terdapat kearifan-kearifan lokal yang dapat dilestarikan untu menjaga kerukunan umat manusia.
Masyarakat Indonesia yang plural memberikan potensi konflik yang cukup besar. Potensi tersebut dapat direda melalui lokal wisdom. Salah-satu lokal wisdom dicontohkan tradisi hidup bersama dengan alam pada suku Mentawai. Harmonisasi antara manusia dan alam merupakan ajaran leluhur suku tersebut. Harmoni antara manusia dan alam menjadi modal kekuatan untuk menciptakan kerukunan manusia.
Ketika seseorang memiliki perasan welas asih dan peduli kepada alam, hakikatnya ia telah menyintai makhluk yang ada di alam semesta termasuk manusia. Oleh karena itu kasih sayang menjadi lokal wisdom yang sudah mengakar di bumi Nusantara sebagai media pemersatu bangsa. Tidak memandang suku, agama, dan ras, kasih sayang merupakan kebenaran yang diakui secara kolektif sebagai pilar menciptakan kerukunan umat manusia. Jika kasih sayang yang diutamakan, maka dapat diwujudkan kaidah membangun harmoni di masyarakat tanpa harus melepas identitas masing-masing. Adanya perbedaan menjadi modal identitas untuk saling mengenal.
Sebagian besar munculnya konflik karena minimnya perasaan kasih sayang terhadap sesama. Oleh karena itu peran pendidik melalui sekolah/madrasah untuk membumikan sikap kasih sayang perlu terus ditumbuhkembangkan kepada mental peserta didik. Pada kesempatan pararel session Dr. Tri Prasetiyo Utomo, M.Pd.I menyampaikan pentingnya model pengembangan kurikulum pendidikan agama Islam yang kreatif. Kreativitas pendidik diwujudkan dalam pendekatan pembelajaran, strategi, metode, dan model pembelajaran. Tahapan pembelajaran yang terus dikembangkan dengan memerhatikan perkembangan psikologi peserta didik, dinamika sosial masyarakat, dan teknologi pembelajaran yang tepat akan memberikan perkembangan positif dalam membumikan nilai-nilai pendidikan agama Islam, khususnya kasih sayang sesama manusia.
Sedangkan dutas besar Indonesia di Tunisia menyampaikan, pentingnya membumikan Trilogi Persaudaraan. Trilogi persaudaran (ukhuwah) ini dipopulerkan oleh KH Ahmad Shiddiq, perihal persaduraaan sesama umat Islam (ukhuwah Islamiyah), persaudaraan bangsa (ukhuwah wathaniyah), dan persaudaraan sesama manusia (ukhuwah basyariah), oleh karena itu menolong manusia tanpa membeda-bedakan suku, agama, dan bangsanya menjadi anjuran dalam agama. Trilogi persaudaraan tersebut menjadi bagian lokal wisdom yang cukup efektif dalam menciptakan harmoni kerukunan umat manusia.
Sementara direktur pascasarjana UIN Sunan Kalijaga memaparkan, untuk menciptakan kerukunan umat beragama tidak cukup dengan alquran dan hadis, tetapi perlu ditambahkan maqosid alquran wa sunah, ini berorientasi pada kemaslahatan manusia. Maqosid dalam memahami sebuah teks sangat diperlukan. Hal ini bertendensi pada sikap moderat yang mendorong lahirnya kemaslahatan hidup manusia dunia dan akhirat.
International Conference on Islam, Law, and Society dilaksankaan di Griya Persada Convention Hotel dan Resort Bandungan Semarang Indonesia. Konferensi yang dilaksanakan selama tiga hari, mulai 25-27 Oktober 2023 berjalan dengan Khidmah. Masing-masing PTKIN dan PTKIS mengirimkan delegasinya untuk menyampaikan paper karya ilmiah dengan masing-masing tema. Luaran dari paper tersebut berupa prosiding internasional.

Komentar
Posting Komentar