NIKMAT SEHAT
Oleh: Dr. Tri Prasetiyo Utomo, M.Pd.I.
Di sampaikan pada qutbah jumat masjid al-Azhar Kutoanyar 15 September 2023
وَاِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوْهَا ۗاِنَّ اللّٰهَ لَغَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
Artinya; Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (Q.S An-Nahl ayat 18).
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْاٰنِ مَا هُوَ شِفَاۤءٌ وَّرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِيْنَۙ وَلَا يَزِيْدُ الظّٰلِمِيْنَ اِلَّا خَسَارًا
Artinya; Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang mukmin, sedangkan bagi orang-orang zalim (Al-Qur’an itu) hanya akan menambah kerugian (Q.S Al-Isra’ ayat 82).
Sehat merupakan keadaan baik seluruh badan terkandung maksud tidak sakit. Sehat adalah sebagian nikmat dari Allah. Nikmat yang sungguh agung dan berharga tersebut (sehat) harus disyukuri sebagai mestinya. Syukur atas nikmat sehat dapat diungkapkan melalui senantiasa melakukan amal kebajikan atau perbuatan yang diridai pemberi sehat, yakni Allah swt. Menjadi sebuah keniscayaan dan kesepakatan bersama, apabila seseorang diberi sesuatu maka mengucapkan terima kasih. Terim kasih ataupun ucapan syukur kepada pemberi nikmat adalah menggunakan nikmat sehat tersebut untuk amal kebajikan yang akan menambah nikmat-nikmat Allah yang lainnya. Janji bertambahnya nikmat apabila seorang hamba bersyukur tertuang dalam surah Ibrahim ayat 7;
وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ
Artinya: (Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras. Ayat ini menegaskan, bahwa melalui syukur atau menggunakan anugerah (nikmat) sesuai ketentuan Allah maka akan ditambah-Nya aneka nikmat tersebut. tetapi yang perlu dipahami upaya untuk menambah nikmat (tampak) perlu usaha yang gigih dan penuh perjuangan. Ini relevan dengan pemaknaan syukur, yakni berarti membuka dan menampakkan. Syukur atas laut. Di dalam laut terdapat aneka nikmat, yaitu ikan, mutiara (perhiasan), dan hamparan samudera sebagai lalulintas bahtera manusia. (Q.S. An-nahl [16]: ayat 14.
وَهُوَ الَّذِيْ سَخَّرَ الْبَحْرَ لِتَأْكُلُوْا مِنْهُ لَحْمًا طَرِيًّا وَّتَسْتَخْرِجُوْا مِنْهُ حِلْيَةً تَلْبَسُوْنَهَاۚ وَتَرَى الْفُلْكَ مَوَاخِرَ فِيْهِ وَلِتَبْتَغُوْا مِنْ فَضْلِهٖ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ
Artinya: Dialah yang menundukkan lautan (untukmu) agar kamu dapat memakan daging yang segar (ikan) darinya dan (dari lautan itu) kamu mengeluarkan perhiasan yang kamu pakai. Kamu (juga) melihat perahu berlayar padanya, dan agar kamu mencari sebagian karunia-Nya, dan agar kamu bersyukur.
Nikmat Allah begitu banyak dan melimpah. Tentu nikmat tersebut dikaruniakan kepada hamba-hamba-Nya yang senantiasa bersyukur. Syukur bermakna melakukan aktivitas sesuai ketentuan Allah swt. Ketentuan tersebut terangkai dalam ungkapan amal kebajikan. Amal kebajikan, yakni segala aktivitas yang sesuai tuntunan Tuhan yang diajarkan oleh manusia pilihan, yakni Rasulullah sawa. Terdapat beberapa kaidah yang diajarkan agama untuk senantiasa sehat. Melalui nikmat sehat seseorang dapat melalukan amal kebajika. Berikut beberapa kaidah sehat menurut/ajaran agama;
Pertama, menjaga kebersihan diri (toharoh). Menjadi sebuah kesepakatan bersama, baik dalam pandangan medis maupun agama hidup bersih berdampak pada kesehatan. Agama menganjurkan menjaga kebersihan melalui toharoh atau bersuci. Terdapat peribahasa pula, yakni bersih pangkal sehat. Perihal sederhana yang menjadi pangkal sehat, yakni mengibas-ngibas tempat tidur. Ini relevan dengan ajaran agama, bahwa jika salah seorang di antara kalian akan tidur, hendaklah mengambil potongan kain dan mengibaskan tempat tidurnya dengan kain tersebut, sambil mengucapkan Bisnillah, karena ia tidak tahu apa yang terjadi sepeninggalnya. (HR. al-Bukhari no. 3401 dan Abu Dawud no. 5050).
Secara umum toharoh yang dipahami, yakni mengambil air wudhu menjelang salat. Ini tertuang dalam surah al-Maidah [5] ayat 6;
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قُمْتُمْ اِلَى الصَّلٰوةِ فَاغْسِلُوْا وُجُوْهَكُمْ وَاَيْدِيَكُمْ اِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوْا بِرُءُوْسِكُمْ وَاَرْجُلَكُمْ اِلَى الْكَعْبَيْنِۗ وَاِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوْاۗ
Artinya; Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu berdiri hendak melaksanakan salat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku serta usaplah kepalamu dan (basuh) kedua kakimu sampai kedua mata kaki. Jika kamu dalam keadaan junub, mandilah. (Q.S. Al-Maidah [5] ayat 6). Salat dipahami sebagai doa dan komunikasi dengan Tuhan. Melakukan komunikasi dengan dzat yang agung tentu memerlukan persiapan. Persiapan tersebut tidak lantas menuntut adanya sesuatu yang mahal dan mewah, tetapi suci dan bersih. Kesucian dan kebersihan menjadi syarat untuk dapat berada di sisi dzat yang agung. Oleh karena wudhu menjadi media mendapat kedudukan yang tinggi melalui salat. Tidak hanya menjelang salat anjuran berwduhu, syukur-syukur setiap saat seorang hamba dalam keadaan suci. Suci lahirnya dan batinnya.
Suci secara lahiriah ditengarai dari wudhu dan terhindarnya anggota badan dari kotoran yang najis. Sementara suci secara batiniah, yakni hati dan pikiran terhindar dari sifat iri hati, dengki, sombong, dan prasangka buruk. Pikiran-pikiran demikian akan berpengaruh terhadap keadaan badan pelakunya. Potensi yang berharga berupa akal dan pikiran, seyogianya digunakan untuk aktivitas yang bermafaat, bukan sebaliknya. Pikiran yang penuh dengan prasangka negatif, maka akan memberatkan aktivitas seseorang. Beban yang berat dan terus dipikul, maka lama-kelamaan akan membuat payah dan jatuh sakit kepada palukunya. Oleh karena itu untuk menjaga kesehatan lahir dan batin dianjurkan untuk menjaga kebersihan lahir dan batin melalui toharoh. Toharoh lahir dapat dilakukan dengan wudhu dan mandi. Sedangkan toharoh batiniah, dilakukan dengan menjaga hati dan pikiran agar senantiasa ingat kepada Allah untuk berpikir postifi.
Kedua, makan dan minum secukupnya. Makan dan minum adalah kebutuhan manusia untuk bertahan hidup. Melalui makan dan minum yang baik (halal) maka manusia memperooleh kekuatan tubuh untuk melakukan aktivitas positif. Islam (agama) memberikan pelajaran, makan dan minumlah dan jangan berlebihan. Q.S al-A’raf [7] ayat 31;
يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ خُذُوْا زِيْنَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَّكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْاۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ ࣖ
Artinya: Wahai anak cucu Adam, pakailah pakaianmu yang indah pada setiap (memasuki) masjid dan makan serta minumlah, tetapi janganlah berlebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebihan (Q.S al-A’raf [7] ayat 31). Secara sederhana ayat ini mengajarkan manusia untuk bersikap secara proporsional (moderat). Makan dan minum secara proporsional, artinya tidak berlebihan. Boleh jadi sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk pernafasan. Bila salah-satunya berlebihan, maka tidak proporsional lagi dan mengabikatkan gangguang berupa kesehatan. Pun-demikian dalam beragama, sikap moderat tidak berlebihan dalam beragama berakibat sehat dalam menjaga hubungan (muamalah) antar sesama. Terlebih hidup di Negara Indonesia yang multicultural. Sikap moderat atau seimbang dalam dalam menjalankan agama menjadi formula dalam menjaga harmoni hubungan sosial yang berdampak pada kesehatan sosial. Perlu diketahui, terdapat dua kesalehan, yakni kesalehan pribadi (hubungan baik dengan Tuhan) dan kesalehan sosial (hubungan baik dengan sesame manusia dan alam semesta).
Ketiga, berolaraga. Olahraga merupakan aktivitas fisik dan psikis yang membantu menjaga kesehatan manusia. Aktivitas olahraga fisik bermanfaat terhadap tubuh untuk memperlancar peradan darah. Hal ini ditengari dari penurunan kadar kolesterol. Penurunan kadar kolesterol yang tepat mengurangi resiko serangan jantung coroner. Olahraga menjadi indikasi hidup sehat jasmani dan ruhani. Islam menganajurkan untuk berolahraga. Dalam literatur Islam, nabi Muhammad orang yang paling sehat hidupnya. Hidup sehat yang diperolah nabi, yakni makan ketika lapar, berhenti sebelum kenyang, menjaga kualitas tidur, dan berolahraga. Dapat disimpulkan pribadi manusia pilihan ini adalah seorang atlet olahraga yang berprestasi. Dalam ivent gulat tradisional Rukanah bin Abdu Yazid juara bertahan gulat yang sangat disegani. Rasulullah dipanggil oleh para sahabat untuk mengahadiri menantang Rukanah. Pertandingan yang banyak dihadiri pengunjung, Rasulullah mampu memblok Rukanah di ronde ketiga. Sejak itu Rukanah berhenti memamerkan kesombongannya. Rasulullah juga terkenal dengan memanah, menunggang kuda, bermain kuda, dan berenang. Dengan demikian Islam memberikan porsi positif untuk berolahraga. Hal ini bila dilakikan dengan niat itbak kepada nabi, maka dapat bernilai ibadah.
Tubuh yang kuat dan sehat merupakan nikmat sehat. Sudah seyogianya apabila setiap pribadi muslim menjaga kebugaran tubuh melalui olahraga. Olahraga menjadi bagian syukur atas nikmat sehat yang tentu akan berimbas ditambah nikmatnya, yakni berupa hati dan pikiran yang jernih. Pikiran dan hati yang jernih bermanfaat untuk terus produktif berkarir, bekerja, dan beraktivitas sesuai dengan kehaliannya. Maka, olahraga menjadi bagian bentuk syukur terhadap nikmat Allah swt.
Keempat, istirahat yang cukup. Istirahat yang cukup dapat membantu menjaga kesehatan. Istirahat berkiatan dengan tidur. Tidur diawal waktu dianjurkan dalam Islam, dengan harapan dapat bangun awal untuk melaksanakan salat fajar tepat waktu. Terdapat banyak penelitian, bahwa kualitas tidur yang baik mengurangi resiko hipertensi. Hipertensi adalah tekanana darah tinggi yang dapat mengakibatkan efek domino, semisal gagal jantung, gagal ginjal, dan stroke. Keadaan demikian dapat dicegah melalui menjaga kualitas tidur yang baik.
Islam memberikan edukasi adab sebelum tidur, yakni tidur diawal waktu, berwudhu, membersihkan tempat tidur, mematikan lampu, menutup bejana makanan, dan berdoa (doa sebelum tidur). Adab ini akan menghasilkan kualitas tidur yang baik. Kualitas tidur yang baik diantaranya tidurnya mendapat mimpi yang indah, bukan sebaliknya mimpi buruk yang membuat gelisah. Ini mirip seperti skenario aktivitas kehidupan manusia di muka bumi. Tidur yang diawali dengan persiapan yang baik, maka akan menjadi tidur yang pulas dan mimpi indah. Relevansi, apabila seseorang datang menghadap Tuhan dengan membawa berjuta masalah. sementara masalah tersebut belum selesai di dunia, maka pertemuan tersebut akan menjadi malapetaka dan mimpi buruk yang nyata dalam perjalanan hidupnya. Semoga kita menjadi muslim yang bahagia tatkala memasuki alam tidur.
Wallahua’lam bi showab.



Komentar
Posting Komentar