MODERASI BERAGAMA KEPALA KUA KEC. KEDUNGWARU
Oleh; Dr. Tri Prasetiyo Utomo, M.Pd.I.
Revitalisasi Kantor Urusan Agama (KUA), yakni penyempurnaan standar pelayanan publik oleh KUA Kecamatan. Penyempurnaan pelayanan publik di tingkat Kantor Urusan Agama menjadi priorotas untuk menghadirkan kualitas beragama umat atau masyarakat. Kualitas beragama menjadi cermin harmoni kehidupan yang saling bahu-membahu, tolong-menolong, dan keselarasan ruh rahmatan lil alamin dalam berbagai sendi kehidupan.
Melalui revitalisasi Kantor Urusan Agama, Kepala kantor urusan agama dan jajarannya memiliki peran aktif dalam meningkatkan kehidupan beragama umat atau masyarakat. Peran ini ditunjukkan dengan kehadiran penyuluh agama Islam pada acara Mujahadah Rubu’uusanah Kab. Tulungagung. Kegiatan yang dilaksanakan di Masjid Jami’ Al-Wasiyah Jl. KH. Abdul Fattah No. 13 C Grobogan Desa Mangunsari Kab. Tulungagung.
Acara ini dihadiri oleh pengurus pusat penyiar sholawat wahidiyah Jombang, Bapak K. Achmad Sholihudin Mahfudh, S.Sos, ketua DPW PSSW Jombang. Kepala Kantor Urusan Agama Kec, Kedungwaru diwakili Dr. Tri Prasetiyo Utomo. Polsek Kecamatan Kedungwaru dihadiri oleh Ipda Mujianto, SH. Koramil Tulungagung dihadiri oleh Bapak Peltu Slamet.
Do’a bersama ini berinisiasi untuk keselamatan Bangsa dan Negara, menuju masyarakat adil dan makmur. Melalui agenda mujahadah ini diharapkan para jamiah pengamal sholawat wahidiyah memiliki kesadaran terkait makna fafirru ilallah wa rosuulihi wa salam. Kesadaran terhadap nilai-nilai ke-tuhan-an menjadi dasar untuk menciptakan kehidupan yang damai, adil, makmur, dan sejahtera. Oleh karenanya, Kepala KUA Kecamatan Kedungwaru memberikan sambutannya yang dalam hal ini diwakili oleh Penyuluh agama Islam Dr. Tri Prasetiyo Utomo, M.Pd.I, pentingnya moderasi beragama. Salah-satu elemen dala moderasi, yakni bersikap adil. ini selaras dengan tujuan dilaksanakannya doa bersama atau mujahadab ini, yakni menciptakan masyatakat yang adil. Keadilan menjadi pilar dalam membentuk sebuah tatanan sosial masyarakat.
Pancasila sebagai ideologi Negera Indonesia. Di dalam Pancasila tertuang keadilan yang harus diwujudkan, yakni kemanusiaan yang adil dan beradan, dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Ini selaras dengan harapan, doa, dan program moderasi beragama yang menghadirkan tatanan sosial yang adil. Mujahadah yang diselenggarakan oleh jamiah pengamal sholawat wahidiyah berusaha meraih rida Allah agar mendapat keselamatan, keadilan, dan kemakmuran Bangsa dan Negara. Hidup yang selaras dengan ajaran-ajaran agama lillah (memiliki niat kepada Allah) maka cahaya petunjuk akan hadir kepada pelakunya. Hati yang selalu bersambung dengan Tuhan, maka segala amal perbuatan akan dibimbing oleh Allah swt. Dengan demikian perilakunya akan senantiasa taat kepada Allah, taat kepada rasul utusan Allah, dan taat kepada peraturan atau hukum positif pemerintah.
Kegiatan ini mendapat apresiasi dari Kepala Kantor Urusan Agama Kec. Kedungwaru yang disampaikan Dr. Tri Prasetiyo Utomo, M.Pd.I. Melalaui kegiatan ini diharapkan dapat tercipta sumber daya manusia yang memiliki pemahaman transendetal utuh. Sumber daya manusia menjadi faktor utama dalam menata tatanan masyarakat yang modern dan peradaban. Modernisasi peradaban ditandai adanya sikap toleransi menghormati perbeadaan. Perbedaan diartikan sebagai Rahmat Tuhan yang memberikan peluang untuk saling mengenal, saling membutuhkan, dan saling melengkapi. Oleh karena itu Kepala Kantor Urusan Agama berpesan, melalui pemahaman agama yang utuh diharapkan akan hadir sumber daya manusia yang unggul, yakni rahmatan lil alamin. Untuk menciptakan pribadi yang rahmatan lil alamin maka diperlukan kecerdasan spiritual. Kecerdasan spiritul menjadi ruh hadirnya sikap moderat, yakni cerdas, iman, dan taqwa. Oleh karena itu peningkatan kecerdasan spiritual melalui kegiatan doa bersama, selawat, dzuikir, dan pengajian (majlis taklim) tentu berimplikasi positif dalam meningkatkan keadilan, kemakmuran, dan kesejahteraan Bangsa.
Kegiatan mujahadah doa bersama ini dilaksanakan di masjid Al-Wahisyah Mangunsari. Kegiatan diawali dengan pembacaan tahlil dan doa bersama kemudian ditutup dengan pelaksanaan pengajian atau kuliah umum dari pengurus pusat sholawat wahidiyah. Jamaah mengikuti kegiatan dengan penuh Khidmah. Harapan dari pengurus sholawat wahidiyah, agar semua jamaah mengamalkan selawat sebagai media mendekatkan diri kepada Allah swt. Pribadi yang dekat dengan sang pencipta, maka memiliki keistimewaan dalam hidupnya, yakni kunci selamat dunia dan akhirat. Keselamatan hidup di dunia dan akhirat menjadi harapan dan tujuan semua manusia. Oleh karena itu melalui amaliah spiritul, manusia dapat berharap, memohon, dan berdoa kepada Allah agar tercipta kehidupan yang adil, makmur, dan sejahtera. Keadilan, kemakmuran, dan kesejahteraan tidak hanya bersifat individualistik, tetapi lebih universal, yakni Bangsa, Neharan, dan Alam semesta (Rahmatan lil’alamin0.





Komentar
Posting Komentar