KEBAHAGIAAN MENURUT AGAMA

KEBAHAGIAAN MENURUT AGAMA Dr. Tri Prasetiyo Utomo, M.Pd.I. Disampaikan di Lapas Tulungagung 25 Agustus 2023
Kebahagiaan menjadi dimensi wajib dalam kehidupan manusia. Tanpa kebahagiaan, sebanyak apapun materi tidak akan membuat sempurna kehidupan manusia. Bahagia adalah kesenangan dan ketenteraman hidup manusia, baik lahir maupun batin. Kesenangan dan ketenteraman fisik ditandai dengan diberikannya nikmat sehat badan sehingga bisa melakukan aktivitas apapun tanpa adanya kendala. Bayangkan, tubuh sakit, lesu, dan meriang maka akan mengganggu aktivitas. Gangguan ini dapat menyebabkan kegelisahan alhasil tidak tenang, tenteram, dan bahagia. Sedangkan ketenteraman batin, yakni dapat melakukan amal kebajikan. Setiap amal kebajikan walaupun sederhana akan berimbas pada ketenteraman batiniah. Misalkan, masih segar diingatan setiap manusia waktu kecil, yakni menolong seseorang yang sedang kebingungan mencari alamat tertentu, dan mampu memberikan informasi alamat yang bersangkutan, maka menjadi sebuah kebahagiaan atau marem dalam bahasa jawa. Sederhana, tapi membekas dalam relung hati yang paling dalam, yakni kebaikan.
Alquran memberikan informasi beberapa perbuatan yang dapat berbuah kesenangan, ketenteraman, dan kebahagiaan. Kebahagiaan menurut alquran dimaknai sebagai sa’adah. Terdapat 17 indikator sa’adah dalam alquran. Menjadi sebuah petunjuk juga, bahwa 17 rokaat sehari menjadi indikator kebahagiaan. Sedangkan angka kebahagiaan bangasa Indonesia-pun, 17 Agustus 1945. Tentu ini bukan sekadar kebetulan, karena tidak ada yang kebetulan di alam semesta ini. Setiap kejadian telah dirancang sesuai dengan sunatullah atau ketentuan Allah swt. Selaras dengan pesan Tuhan dalam surah al-Baqarah ayat 164, yakni; اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِيْ تَجْرِيْ فِى الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ مِنَ السَّمَاۤءِ مِنْ مَّاۤءٍ فَاَحْيَا بِهِ الْاَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيْهَا مِنْ كُلِّ دَاۤبَّةٍ ۖ وَّتَصْرِيْفِ الرِّيٰحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّعْقِلُوْنَ Artinya; Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang47) bahtera yang berlayar di laut dengan (muatan) yang bermanfaat bagi manusia, apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengannya Dia menghidupkan bumi setelah mati (kering), dan Dia menebarkan di dalamnya semua jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, (semua itu) sungguh merupakan tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang mengerti. Ayat ini menunjukkan betapa pergantian siang dan malam akibat rotasi bumi, menggerakkan udata secara global berupa angin. Melalui angin kapal para nelayan dapat bergerak dengan layarnya, pun angin menggerakkan uap air dari lautan sebagai bahan membenrtuk awan yang didorong ke daratan sehingga terjadilah hujan yang bermanfaat bagi kesuburan daratan bumi seisinya. Melalui hujan aneka tumbuhan tumbuh dengan hijaunya dan memberikan manfaat kesegaran bagi setiap mata yang memandang. Bukankah ini sebuah nikmat yang luar biasa, jangan katakana ini kebetulan. Tidak. Sekali lagi tidak. Kejadian ini telah dirancang oleh dzat yang maha bijaksana (al-hakim). Dimensi kebahagiaan dalam alquran diantaranya, yakni; Pertama, berpegang teguh pada kendali agama. Seseorang yang berpegang teguh pada agama disebut tafaqquh fi al-dien. Kaidah ini tertuang dalam surah an-Nisa’ ayat 175, yaitu; فَاَمَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِاللّٰهِ وَاعْتَصَمُوْا بِهٖ فَسَيُدْخِلُهُمْ فِيْ رَحْمَةٍ مِّنْهُ وَفَضْلٍۙ وَّيَهْدِيْهِمْ اِلَيْهِ صِرَاطًا مُّسْتَقِيْمًاۗ Artinya; Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh pada (agama)-Nya, maka Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat dan karunia dari-Nya (surga) serta menunjukkan mereka jalan yang lurus kepada-Nya. Ayat ini menunjukkan sikap orang yang percaya dan meyakini serta berpegang teguh pada bukti-bukti kebesaran Allah (alquran). Mereka yang berpegang teguh pada petunjuk Allah (alquran) niscaya akan mendapat Rahmat yang besar dari Allah Swt. Rahmat bermakna kasih sayang, karunia, dan keberkahan hidup. Sungguh beruntung tentunya, seseorang yang mendapat Rahmat-Nya, berupa jalan kebaikan. Jalan yang lurus (orang yang benar), jalan yang lebar (hidupnya penuh ketenteraman, ketenangan, dan kebahagiaan), dan menuntut ke surganya Allah swt. Inilah sebagian makna dari berpegang teguh pada tali atau agama Allah swt.
Kedua, melakukan amal kebajikan. Setiap perbuatan atau amal anak cucu Adam di muka bumi akan ditampakkan. Amal baik akan mendapat balasan yang lebih baik. Sedangkan amal buruk akan mendapat ganjaran yang serupa. Demikian, konsekuensi setiap perbuatan yang dilakukan anak cucu Adam. Dalam filsafat jawa cukup populer ungkapan sopo seng nandur yekti bakal ngunduh, siapa yang menanam pasti akan menuai hasil. Ungkapan ini menunjukkan, bahwa setiap amal perbuatan pasti ada dampak yang ditimbulkannya. Alquran memberikan keterangan dalam surah an-Nisa’ ayat 85, yaitu; مَنْ يَّشْفَعْ شَفَاعَةً حَسَنَةً يَّكُنْ لَّهٗ نَصِيْبٌ مِّنْهَا ۚ وَمَنْ يَّشْفَعْ شَفَاعَةً سَيِّئَةً يَّكُنْ لَّهٗ كِفْلٌ مِّنْهَا ۗ وَكَانَ اللّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ مُّقِيْتًا Artinya; Siapa yang memberi pertolongan yang baik niscaya akan memperoleh bagian (pahala) darinya. Siapa yang memberi pertolongan yang buruk niscaya akan menanggung bagian (dosa) darinya. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Ayat ini cukup jelas, bahwa siapapun yang menjadi perantara kebajikan atau menjadi pelaku dalam melakukan amal saleh maka ia akan mendapat bagian pahala darinya. Sebaliknya siapapun yang menjadi perantara terhadap keburukan, maka akan menanggung pula bagian dosa dari keburukan tersebut. Sungguh tampak jelas sekali, bahwa alam bersifat seimbang. Terdapat hukum timbal balik. Siapa yang menanam pasti menuai. Jadi, sama-sama akan memperoleh hasil (kebaikan-keburukan) orang yang berakal tentu memilih tanaman kebajikan. Ketiga, menghiasi diri dengan sikap sabar. Sabar merupakan sikap tahan menghadapi cobaan, ditunjukkan dengan tidak mudah marah, tidak lekas putus asa, dan tidak mudah patah hati. Bisa jadi imbas dari sikap tersebut membuat pelaku sabar akan tenang pikiran dan perasaannya. Ketenangan inilah yang akan membawa pada kebahagiaan hidup. Ketenangan juga akan memberi banyak inspirasi sehingga menjadi pribadi yang sukses dunia dan akhirat. Alquran memberikan keterangan perihal orang-orang yang bersabar, yakni tempat yang mulia. Tertuang dalam surah al-Furqan ayat 75; اُولٰۤىِٕكَ يُجْزَوْنَ الْغُرْفَةَ بِمَا صَبَرُوْا وَيُلَقَّوْنَ فِيْهَا تَحِيَّةً وَّسَلٰمًا ۙ Artinya; Mereka itu akan diberi balasan dengan tempat yang tinggi (dalam surga) atas kesabaran mereka serta di sana mereka akan disambut dengan penghormatan dan salam. Balasan tempat yang tinggi dan disambut dengan penghomratan ucapan salam, bagi pelaku sabar. Sikap sabar relevan dengan ibad ar-Rahman, yakni perilaku yang mencerminkan kerendahan hati, ketenangan hati, dan wibawa pada pancaran air muka. Segala masalah yang hadir dihadapi dengan lapang dada, optimisme dapat menyelesaikan masalah atas pertolongan Allah melalui prihatin dan ikhtiar. Ketulusan, keterbukaan, sederhana, dan mau menerima saran kritik menjadi hiasan pribadi ibadurahman. Pribadi yang memiliki karakter demikian, maka berpotensi mendapat kedudukan yang tinggi di sisi Allah. Alquran melukiskan kedudukan mereka, yakni ghurfah bangunan yang tinggi, tahiyyatan kehormatan, dan salam keselamatan dunia dan akhirat (diperolehnya kesuksesan dunia dan akhirat).
Keempat, menghiasi diri dengan sifat Syukur. Syukur merupakan perasaan lega, senang, dan bahagia atas karunia yang diberikan Allah. Syukur atau ucapan terima kasih kepada Allah dapat diwujudkan dalam tiga aspek. 1) Syukur dengan lisan, berupa kalimat pujian kepada Allah swt atas nikmat tersebut dibarengi dengan kesadaran, bahwa ia telah mendapat anugerah nikmat. 2) Syukur dengan hati, berupa kesaksian dan kecintaan kepada Allah. Hatinya selalu nyambung dengan Allah agar mendapat tambahan kebaikan, berupa pancaran petunjuk Allah yang akan membimbing untun mendapat jalan yang lurus. 3) Syukur melalui anggota badan, yakni diwujudkan dengan kepatuhan dan ketaatan kepada Allah Swt. Angota badan yang tidak digunakan untuk melakukan ketaatan, melanggar hukum, berbuat batil, membuat kerusakan maka bukan dari perilaku syukur. Siapapun yang melakukan perihal demikian (ingkar) maka akan mendapat siksa yang pedih dari Allah Swt, baik di dunia maupun di akhirat. Alquran memberikan keterangan dalam surah Ibrahim ayat 7 perihal syukur; وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ Artinya; (Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras. Kelima, tazkiyatun al-nafs atau membersihkan diri dari perilaku tercela. Tazkiyatun al-nafs dapat diartikan sebagai upaya penyucian, pembinaan, dan menumbuhkan kehidupan spiritual. Usaha tersebut dapat dilakukan melalui membersihkan diri dari sifat kebinatangan yang buas, memakan hak orang lain, dan menikam dengan racun fitnah diganti dengan sifat-sifat terpuji. Langkah yang dapat dilakukan untuk tazkiyatun al-nafs, yakni mendekatkan diri kepada Allah swt, baik dalam keadaan duduk, berdiri, maupun berbaring senantiasa memikirkan kebesaran Allah. Hal inilah yang menyebabkan ia melakukan amal kebajikan dan terhindar dari siksa dunia dan siksa akhirat. Maka beruntunglah orang-orang yang senantiasa hatinya nyambung dengan Allah sehingga perilakunya berada dalam titian garis petunjuk Allah. Alquran memberikan keterangan dalam surah ali-‘Imran ayat 191, sebagai berikut; الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًاۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ Artinya; (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Mahasuci Engkau. Lindungilah kami dari azab neraka. Wallahua’lam bi showab

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pejuang Ende

PERAN PENYULUH DALAM MENGAWAL MANDATORI HALAL