MAKNA ISRA' MI'RAJ

Dr. Tri Prasetiyo Utomo, M.Pd.I. سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ Artinya: Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya425) agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat (QS. Al-Isra’ ayat 1). Isra’ dan Mi’raj yang dilakukan oleh Nabi Muhammad menjadi momentum khusus untuk semakin memperkuat keimanan dan keyakinan dengan risalah dan ajaran yang dibawa nabi Muhamad saw. Pada peristiwa itu, Allah swt memperlihatkan tanda-tanda kebesaran-Nya Yang Agung. Isra` adalah peristiwa ketika Allah Swt. memperjalankan Nabi-Nya dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsha di Al-Quds. Sementara Mi‘raj, peristiwa dinaikkannya Nabi Muhammad SAW melintasi lapisan-lapisan langit tertinggi sampai batas yang tidak dapat dijangkau pengetahuan malaikat, manusia, dan jin. Semua itu terjadi dalam satu malam. Menelisik dari surat al-Isra’ ayat 1 di atas, bahwa tujuan memperlihatkan tanda-tanda keaguangan/kebesaran Allah kepada nabi Muhamad saw. Tanda-tanda kebesaran/keagungan Allah diantaranya, yaitu pertama, keagungan Allah yang bersifat nyata. Keagungan ini bisa diketahui setelah mempelajarinya atau belajar. Sebagai contoh hukum-hukum Allah yang berlaku di alam semesta. Dalam filsafat jawa disampaikan, becik ketitik olo ketoro. Ini termasuk hukum atau ketentuan Allah swt. Barang siapa yang melakukan amal kebajikan niscaya akan ditunjukan Allah atau mendapat balasan yang lebih baik dan berlipat ganda. Sedangkan olo atau tindakan buruk walau di sembunyikan secerdik apapun, niscaya akan ditunjukan Allah, baik dunia maupun di akhirat. Artinya setiap amal perbuatan sacara sunatullah akan mendapat balasan/konsekuensi di dunia dan akhirat. Kedua, hukum Allah yang tidak nyata atau di luar jangkauan akal manusia. Kejadian ini di luar hukum-hukum yang manusia ketahui. Misalkan, kejadian isra’ mi’raj nabi Muhamad saw. Isra’ mi’raj merupakan kejadian yang sungguh luar biasa. Kejadian tersebut untuk menunjukan tanda-tanda keagungan Allah. Oleh-oleh yang agung tersebut, yaitu anugerah salat lima waktu yang disampaikan kepada nabi Muhamad saw. Salat adalah menghadapkan hati (jiwa) kepada Allah, menghadirkan perasaan takut kepada-Nya serta menumbuhkan di dalam jiwa rasa kebesaran-Nya atau mendhohirkan hajat dan keperluan kita kepada Allah yang kita sembah dengan perkataan (doa) dan pekerjaan atau kedua-duanya. Keutamaan salat ini termaktub dalam alquran surat al-Ankabut ayat 45; اُتْلُ مَآ اُوْحِيَ اِلَيْكَ مِنَ الْكِتٰبِ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَۗ اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ ۗوَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُ ۗوَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ Artinya; Bacalah (Nabi Muhammad) Kitab (Al-Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu dan tegakkanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Sungguh, mengingat Allah (salat) itu lebih besar (keutamaannya daripada ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan (QS. Al-Ankabut ayat 45). Momentum menyambut isra’ mi’raj mari kita gunakan untuk meraih keutamaan yang agung melalui salat. Sering disampaikan, bahwa salat dapat mencegah perbuatan keji dan munkar. Dua perbuatan tersebut sangat merugikan manusia, baik secara pribadi maupun secara umum. Manusia yang terbebas dari perbuatan keji dan mungkar tentu akan mendapat kebahagiaan yang luar biasa. Kebahagiaan tersebut merupakan keaguangan atas uluran tangan Tuhan melalui salat. Melalui salat dan mengingat Allah (zikir) maka kunci kebahagiaan hidup akan tercipta. Dalam surat al-Ankabut ditutup dengan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. Tentu ini bertalian dengan becik ketitik olo ketoro. Artinya, amal kebajikan yang dilakukan manusia melalui salat dan zikir akan mendapat balasan berupa pertolongan Allah. Pertolongan Allah tersebut banyak ragamnya, bisa jadi masuk kategori hukum Allah yang nyata, atau hukum Allah yang tidak nyata. Wallahua’lam bi showab.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pejuang Ende

PERAN PENYULUH DALAM MENGAWAL MANDATORI HALAL