SISI LAIN MUJAHADAH KUBRO TEGALSARI PONOROGO
Kata mujahadah terambil dari kata jihad bermakna perang. Sementara dalam kamus bahasa Indonesia, jihad adalah usaha dengan segala usaha untuk mencapai kebaikan. Masih pada sumber yang sama, jihad merupakan usaha sungguh-sungguh membela agama melalui harta, jiwa, dan raga. Dari beberapa penjelasan tersebut semua berciri usaha sungguh-sungguh untuk mencapai tujuan. Tujuan itulah yang menjadi kata kunci, usaha/jihad/mujahadah tersebut akan bermuara kemana. Menurut sebagian ulama, muajahadah atau jihad adalah: أَمَّاالْمُجَاهَدَةُ فَهيَ فِي اللُّغَةِ الْمُحَارَبَةُ وَفِي الشَّرْعِ مُحَارَبَةُ أَعْدَآءِ اللهِ , وَفِي اصْطـِلاَحِ أَهْلِ الْحَـقِـيْقَة ِ مُحَــارَبَةُ النَّفـْسِ الأَمَّارَةِ بِالسُّوْءِ وَتَحْمِيْلُهَا مَا شَقَّ عَلَيْـهَا ِممَّا هُوَ مَطْلـُوْبٌ شَرْعًا . وَقَالَ بَعْضُـهُمْ : الْمُـجَاهَدَةُ مُخَالَـفَةُ النَّفْسِ , وَقَالَ بَعْضُهُمْ : المـُجَاهَدَةُ مَنْعُ النَّفْس ِ عَنِ الْمَـأْلُوْ فَاتِ Arti mujahadah menurut bahasa adalah perang, menurut aturan syara’ adalah perang melawan musuh-musuh Alloh, dan menurut istilah ahli hakikat adalah memerangi nafsu amarah bis-suu’ (2) dan memberi beban kepadanya untuk melakukan sesuatu yang berat baginya yang sesuai dengan aturan syara’ (agama). Sebagian Ulama mengatakan: "Mujahadah adalah tidak menuruti kehendak nafsu”, dan ada lagi yang mengatakan: “Mujahadah adalah menahan nafsu dari kesenangannya.
Terdapat beberapa kata kunci dari definisi di atas; pertama, perang melawan musuh-musuh Allah (memerangi nafsu amarah). Usaha sungguh-sungguh untuk menundukan nafsu menjadi tujuannya. Manusia setiap saat dan setiap waktu berperang/melawan nafsu. Nafsu yang senantiasa mengajak kepada keburukan dan angkara murka harus ditundukan dengan cara sungguh-sungguh (jihad). Tidak mudah memang untuk menundukan nafsu tersebut. Ada banyak celah yang menjadi kelemahan manusia agar tunduk dan menuruti hawa nafsu. Kedua, mengambil sesuatu yang berat di luar kebiasaan manusia umumnya. ini biasanya dilakukan oleh orang tertentu bertujuan mendekatkan diri kepada Allah. Boleh dilakukan hanya kepada mereka yang mampu saja. Misalnya, menyedekahkan harta yang banyak untuk berjuang dalam kebaikan. Kebaikan bisa membuat sarana ibadah masjid, pendidikan, dan rumah sakit yang tanahnya berasal dari wakaf pribadi. Ini sebagian dari menempuh jalan kebaikan yang dilakukan oleh orang-orang tertentu. Masih banyak amalan atau langkah strategis menuju kebaikan dalam bingkai jihad. Ketiga, maujahadah adalah menahan kesenangan. Manusia pada umumnya suka atau menyintai kesenangan. Perlu diingat segala kesenangan biasanya akan membuat lalai dari mengingat Allah. Oleh karena itu, mujahadah bermakna menahan kesenangan. Kesenangan-kesenangan yang dapat melalaikan dari mengingat Allah tentu akan dihindari oleh mereka yang menempuh jalan Tuhan. Hati yang selalu mengingat Allah akan mudah mendapat petunjuk. Petunjuk dari berbagai kebaikan. Jadi, muajahadah merupakan upaya/tindakan secara sungguh-sungguh melalui menahan nafsu, memberi nilai lebih, dan menahan kesenangan untuk menggapai rida Allah.
Berkenaan dengan Mujahadah akbar di Masji Tegalsari Ponorogo yang di gelar oleh PW NU Jawatimur menunjukan adanya tujuan menggapai rida Allah. Masjid Tegalsari yang lumayan jauh jarakanya dari Tulungagung memberikan arti, hanya mereka yang sungguh-sungguh untuk datang memenuhi panggilan mujahadah tersebut. Kader-kader NU yang terpilihlah yang akan datang dan meluangkan waktunya untuk bermujahadah. Semua orang pasti memiliki kesibukan, tetapi karena ada panggilan hati untuk mujahadah maka akan datang. Ada beberapa hal yang menjadi nasihat pada momen mujahadah. Pertama, bersungguh-sungguh dalam menahan nafsu. Artinya nafsu untuk memenuhi tujuan pribadi, tidak mendahulukan kepentingan organisasi harus disingkirkan. Banyak kader yang lebih mementingkan kepentingan pribadi bahkan bidang saja tanpa memerhatikan kepentingan organisasi secara utuh. Jadi, wajar saja bilsa roda organisasi berjalan kurang maksimal. Menyitir dari konsep manajemen kelembagaan, ini laksana organ atau bidang dalam organisasi yang memiliki tafsir sendiri-sendiri dalam menjalankan organisasi. Secara kasat mata memiliki peran dan berjalan tak ubahnya rutinitas organiasi, tapi jalannya tidak selaras dengan visi misi organisa. Dalam bahasa musik, tidak membentuk sebuah orkestra irama yang senada seirama sehingga tercipta alunan lagu yang enak di dengar. Nasihat kedua, memberi nilai lebih. Memang meluangkan waktu untuk mujahadah perlu niat dan upaya yang sungguh-sungguh untuk hadir. Melihat perjalanan yang lumayan jauh, apalagi jalannya tidak mudah harus menembus gunung Trenggalek dan perbatasan Ponorogo. Ini termasuk memberi nilai lebih. Akan banyak dalih dan seribu alasan untuk tidak hadir, apalagi ini tidak mendapat (secara kasat mata) tetapi memberi. Maka, wajar saja bila hanya segelintir orang yang hadir dan terpilih untuk datang memenuhi undangan mujahadah akbar di Masjid Tegalsari Ponorogo. Sinyal Kiyai Ageng Hasan Besari menjadi magnit yang kuat untuk datang. Di samping itu ada ikatan emosional dan pemahaman pentingnya berjalan dan beraktivitas sesuai alur organisasi maka ini menjadi panggilan hati. Oleh karena itu, proses mujahadah akbar Tegalsari memberikan arti akan pentingnya memberi lebih berupa komitmen organisasi. Nasihat ketiga, menahan kesenangan. Kesenangan adalah nafsu yang melekat pada manusia dan sering terbalut dengan cover kebaikan. Tidur nyenyak di rumah bersenda gurau dengan anak istri memang bernilai ibadah dan menyenengakan, tetapi ada kewajiban yang harus dijalankan, yaitu memenuhi udangan. Datang mujahadah merupakan media menahan kesenangan. Tidak mudah memisahkan antara kepentingan pribadi dan kepentingan organisasi. Kelompok-kelompok yang membuat nyaman, senang, dan membangun ikatan tanpa aturan organisasi lebih diminati. Ini baik, tetapi perlu ditingkatakan kembali pada ranah kepentingan organiasi secara universal. Berbaur dengan orang yang belum dikenal, belum ada ikatan, dan ditempat baru adalah wujud menahan kesenangan. Momen mujahadah sebagian media mengukur menahan nafsu, memberi lebih terhadap tujuan organisasi bukan kelompok, dan menahan kesenangan dari perspektif sempit. Wallahua'lam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pejuang Ende

PERAN PENYULUH DALAM MENGAWAL MANDATORI HALAL