MEMBUMIKAN BINEKA TUNGGAL IKA
وَكَذٰلِكَ جَعَلْنٰكُمْ اُمَّةً وَّسَطًا لِّتَكُوْنُوْا شُهَدَاۤءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُوْنَ الرَّسُوْلُ عَلَيْكُمْ شَهِيْدًا ۗ
Artinya; Demikian pula Kami telah menjadikan kamu,ummatan wasathan agar kamu menjadi saksi (patron) atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Nabi Muhammad) menjadi saksi (patron) atas (perbuatan) kamu (QS. Al-Baqarah ayat 143).
Hadirin sidang jum’at yang berbahagia. Syukur ke hadirat Allah swt karena atas limpahan rahmat, taufik, serta hidayah-Nya kita diberi nikmat untuk sujud kepada Allah, dalam salat jum’at. Harapan yang bisa kita panjatkan, semoga nikmat salat jum’at ini akan membuka pintu hidayah melalui ilmu pengetahuan agar menjadi umat yang wasatahan, umat yang moderat menjadi teladan bagi manusia lainnya.
Salawat dan salam senantiasa kita sampaikan kepada junjungan nabi agung Muhammad saw dengan harapan segala tingkah laku, sikap, dan perbuatan merujuk pada nabi Muhammad saw. Ini relevan dengan lanjutan ayat di atas, agar Rasul/Muhammad menjadi saksi atas perbuatan kamu.
Sidang jum’at yang berbahagia. Pertama marilah kita senantiasa meningkatkan ketaqwaan terhadap Allah swt, dengan sebenar-benar taqwa. Taqwa bermakna senantiasa dan berusaha untuk melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala larangan. Jika ini dilaksanakan tentu kebahagiaan, ketenteraman, dan curahan nimat Allah akan mengalir terhadap sipapun yang melaksanakannya.
Sidang jum’at yang berbahagia. Adapaun judul qutbah kita hari ini adalah Membumikan Kebinekaan dalam Masyarakat Plural. Indonesia merupakan bangsa yang besar. Tanda-tanda kebesaran tersebut dibuktikan dengan banyaknya suku, agama, dan budaya masyarakatnya. Berkenaan dengan warna perbedaan tersebut diperlukan sikap yang bijak agar lahir persatuan dan kesatuan Bangsa. Bangsa ini telah merumuskan konsep untuk menyatukan perbedaan dalam bingkai bineka tunggal ika yang bermakna berbeda-beda tetap satu jua. Selaras dengan pesan agama, adanya perbedaan akan melahirkan rasa saling mengenal antara satu dengan lainnya. Ini tentu akan melahirkan sikap rahmah kasih sayang antar sesama. Ayat yang berkenaan, yaitu;
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ
Artinya; Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha teliti. (QS. Al-Hujarat ayat 13).
Sebagian mufasirin memaknai ayat di atas sebagai bentuk penekanan terhadap prinsip dasar hubungan antar sesama manusia. Pada dasarnya semua manusia memiliki kedudukan yang sama. Tidak ada perbedaan pada nilai manusia, baik laki-laki maupun perempuan, suku yang satu dan lainnya, dan budaya satu dengan budaya lainnya. Sedangkan simpulan ayat di atas adalah sesungguhnya yang mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertaqwa. Untuk membumikan sebagian nilai-nilai taqwa dalam kehidupan bermasyarakat dapat merujuk pada konsep ummatan wasathan, yaitu memiliki sikap baik, adil, dan toleransi. Jadi, usaha untuk membumikan bineka tunggal ika dalam masyarakat yang plural perlu ditanamkan nilai-nilai wasathan.
Pertama, menjadi pribadi yang baik (teladan). Hendaknya dalam bergaul dengan sesama selalu menghadirkan budi pekerti yang luhur. Pekerti yang luhur tersebut tampak dari ucapan dan perbuatan. Ucapan dan perbuatan selalu menghadirkan kalimat yang lemah lembut (qoulan layinan). Tidak hanya kalimat yang lembut, tetapi dibarengi dengan kejujuran, ketulusan, dan menjunjung tinggi kebenaran berdasar nilai-nilai luhur agama. Jika perilaku demikian hadir dalam pergaulan bermasyarakat yang plural maka ketenangan, ketenteraman, dan harmonisasi masyarakat akan terjalin dengan baik.
Kedua, bersikap adil. Adil menjadi bagian dari taqwa (orang yang senantiasa menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya). Dengan demikian, jika ingin mendapat derajat taqwa maka perlu menanamkan sikap adil dalam bermuamalah dengan sesama manusia (masyarakat). Tanpa memenuhi bagian-bagian dari nilai taqwa, yaitu adil, maka akan jauh aoi dari panggang. Yaitu, jauh untuk menggapai derajat taqwa. Berkenaan dengan adil, Allah berfirman QS al-Maidah ayat 8, yaitu;
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُوْنُوْا قَوَّامِيْنَ لِلّٰهِ شُهَدَاۤءَ بِالْقِسْطِۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰنُ قَوْمٍ عَلٰٓى اَلَّا تَعْدِلُوْا ۗاِعْدِلُوْاۗ هُوَ اَقْرَبُ لِلتَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ
Artinya; Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi qawwamin karena Allah menjadi saksi dengan adil, dan janganlah sekali-kali kebencian terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah karena ia lebih dekat kepada taqwa, dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Ayat di atas memberikan gambaran tentang perintah bersungguh-sungguh, menegakan kebenaran, menjadi saksi yang adil, dan mendorong berlaku adil baik untuk diri sendiri dan orang lain. Kesungguhan dalam bersikap akan melahirkan kepuasan dan kesempurnaan dalam beraktivitas. Menegakan kebenaran akan membuahkan ketenangan, ketenteraman, dan kebahagiaan, walaupun kadangkala awalnya pahit. Selaras dengan pesan agamawan, sampaikan kebenaran walaupun pahit. Sedangkan menjadi saksi yang adil dan berbuat adil serta adil mendekatkan pada taqwa harus senatiasa menghiasai dalam kehidupan, baik secara pribadi maupun dalam hubungan dengan sesama manusia (bermasyarakat). Jadi, adil adalah sebagian kunci untuk membumikan nilai-nila bineka tunggal ika (berbeda tetap satu jua) agar tercipta harmoni kehidupan rahmatan lil alamin.
Ketiga, bersikap toleransi. Toleransi adalah sikap sabar dan menghargai hak/pendapat orang lain. Toleransi merupakan sikap terpuji untuk membantu tegaknya hubungan bermasyarakat. Buah dari sikap toleransi, terbinanya kerukunan antar umat beragama dan sesama manusia. Dengan demikian, hidup berdampingan dengan masyarakat yang begitu majemuk/plural, diperlukan nilai-nilai toleransi dalam setiap sendi kehidupan. Ingat, pertengkaran, permusuhan, dan boikot di karenakan sikap tidak sabar dan kurang menghargai hak atau pendapat lawan bicara. Alquran memberikan isyrat, bahwa sabar (toleransi) menjadi penolong bagi siapapun yang melakukannya.
وَاسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۗ
Artinya; Mintalah pertolongan dengan sabar dan salat (QS. Al-Baqarah ayat 45). Sabar bermakna menahan diri dari sesuatu yang tidak berkenan dalam hati. Ia mengandung ketabahan yang menimpa. Dengan demikian sabar menjadi ketetapan qolbu/hati untuk melaksanakan perintah agama dan menolak bujukan nafsu. Perintah Allah berupa salat/doa yang dipanjatkan lima kali dalam sehari menjadi wasilah/media kebajikan. Dengan demikian, sabar dan salat menjadi penolong petunjuk Tuhan untuk melahirkan amal kebajikan. Di sampaikan, bahwa sebagian dari taqwa adalah amal kebajikan (sesunguhnya Allah suka terhadap hambanya yang melakukan amal kebjikan).
Keempat, memiliki pandangan yang luas demi kemaslahatan bersama. Menghadirkan sikap qusnudon/berbaik sangka terhadap sesama perlu ditanamkan untuk membangun harmoni kehidupan. Banyak dari kita yang terlalu gegabah dalam memberikan simpulan atau justifikasi terhadap realita sosial. Tetapi, banyak perkara yang sekilas tidak kita sukai, padahal itu baik. Oleh karena itu, senantiasa berpandangan yang luas dan mencari sisi positif akan membuahkan ketenteraman dan kebahagiaan hidup. Selaras dengan pesan Tuhan, yaitu;
ۚ وَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۚ وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ ࣖ
Artinya; Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui (QS. al-Baqarah ayat 216).
Kelima, bersungguh-sungguh menegakan ajaran Tuhan. Selaras dengan pesan Tuhan, yang artinya: Seandainya mereka menegakkan (hukum) Taurat, Injil, dan (alquran) yang diturunkan kepada mereka dari Tuhan mereka, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka. Di antara mereka ada umat yang menempuh jalan yang lurus. Sementara itu, banyak di antara mereka sangat buruk apa yang mereka kerjakan (QS. Al-Maidah ayat 66).
Keadaan masyarakat yang gemah ripah loh jenawi (anugerah ketenteraman, kemakmuran, kedamaian, dan tanah yang subur sehingga kebutuhan pangan tercukupi). Tuhan memberikan isyarat pada ayat di atas, bahwa orang-orang (bangsa) yang bersungguh-sungguh menegakan ajaran Tuhan, maka akan memeroleh rezeki lahir batin (ketenteraman, kedamaian, dan kebahagiaan) yang berasal atau bersumber dari atas dan bawah mereka. Ini menunjukan komitmen terhadap ajaran-ajaran luhur yang penuh kebaikan, maka kebahagiaan dunia dan akhirat akan hadir.
Sidang jum’at yang berbahagia. Usaha untuk membumikan Bineka Tunggal Ika pada masyarakat yang plural perlu dilakukan dengan; menghadirkan sikap teladan yang baik, bersikap adil, toleransi (menghargai hak orang lain), berpandangan luas, dan komitmen terhadap ajaran agama masing-masing demi kemaslahatan bersama. Kiranya beberapa poin tersebut dapat dijadikan alternatif dalam membangun masyarakat yang berperadaban dalam bingkai moderasi beragama.
Pejuang Ende
Abdullah Jia, Pejuang Ilmu di Pascasarjana IAI Tribakti Asal Ende 30 Mei 2022 Assalamu’alaikum Wr. Wb. Nama saya Abdullah Jia, kelahiran Wolooja, pada 24 Mei 1998. Saya adalah seorang perantauan dari Desa Rindiwawo, Kec. Wolowaru, Kab. Ende, Prov. Nusa Tenggara Timur. Ini adalah cerita dan kenangan singkat saya ketika menjadi seorang perantauan yang ingin menuntu ilmu di Program Magister Intstitut Agama Islam Tribakti Lirboyo Kediri. Dalam rangka rekrutmen mahasiswa baru Program Magister Intstitut Agama Islam Tribakti Lirboyo Kediri untuk angakatan 2022-2023, sedikit ada kenangan tersendiri. Ikut tes masuk gelombang pertama rasanya seru juga. Waktu itu tes masuknya lewat online karna masih dalam suasana Pandemi Covid-19. Hal yang tidak terlupakan adalah ketika jadwal tes onlinenya saya lupa dan saya tidak mempersiapkan diri yang lebih matang untuk menghadapi ujian masuk program magister tersebut. Ada teman yang baik hati, ia menelpon saya dan memberitahukan bahwa tes masuknya akan...

Komentar
Posting Komentar