MARHABAN YA RAMADHAN
Dr. Tri Prasetiyo Utomo, M.Pd.I.
Marhaban ya Ramadhan, demikian beberapa tulisan yang menghiasi di beberapa media sosial dan ucapan di berbagai tempat. Kebahagiaan menyambut akan datangnya tamu agung tersebut disambut sedemikian meriah. Secara umum/sederhana marhaban ya ramadhan, bermakna selamat datang bulan suci Ramadhan. Kata marhaban bersumber dari akar kata rahb. Rahb berarti luas/lebar. Ini menunjukan, kalimat marhaban diucapkan untuk tamu agung, penuh kebahagiaan, gembira, dan hati yang lapang luas/lebar. Kata rahb, lahir juga makna tempat berhenti/singgah sesaat bagi musafir. Singgah di race area tersebut tentunya untuk memperbaiki kendaraan dan mengambil beberap bekal untuk menambah stamina. Jadi, hakikat marhaban ya Ramadhan adalah ucapan pengagungan yang ditujukan atas datangnya bulan suci Ramadhan. Disambut dengan kegembiraan, kebahagiaan, dan hati yang lapang. Kesadaran ini terbangun atas keyakinan, melalui Ramadhan momentum untuk memperbaiki diri guna meraih bekal di akhirat.
Berkenaan dengan datangnya bulan suci ramadhan, ada beberap hal yang perlu dikerjakan agar dapat meraih hikmah atas bulan tersebut. Adapun perihal yang dikerjakan, yaitu;
Pertama, bahagia menyambut datangnya ramdhan. Bahagia adalah keadaan mental yang menunjukan suka, bahagia, bangga dan senang. Keadaan tersebut muncul karena datangnya bulan suci Ramadhan. Dalam kitab duratun nasihin disampaikan dari nabi, bersabda; barang siapa merasa gembira dengan masuknya bulan ramdhan, maka Allah mengharamkan tubuhnya terhadap neraka. Tentu sabda tersebut didasari atas kesadaran, bahwa bulan Ramadhan momentum untuk memperbaiki diri guna meraih bekal perjalanan ke akhirat kelak. Jika demikian, banyak amal kebajikan yang perlu dikerjakan pada bulan ini sehingga menjadi sebab terbebasnya dari api neraka.
Bukankah Allah telah menegaskan dalam alquran surat al-Baqarah ayat 185, yaitu; Bulan Ramadhan bulan yang di dalamnya alquran diturunkan, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda. (QS. Al-Baqarah: 185). Penegasan terhadap turunya alquran pada bulan ramdhan, ini memiliki isyarat agar banyak membaca alquran pada bulan Ramadhan dan mempelajarinya (angen-angen sak maknane). Melalui membaca dan mempelajarinya, tentu akan diperoleh petunjuk, pemahaman, dan dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Sebagian mufasirin menyampaikan, dengan membaca alquran (tadarus) pembaca telah mempersiapkan wadah hatinya untuk menerima petunjuk ilahi asupan rohani yang memenuhi kalbunya. Dengan demikiana, jiwanya tercerahkan melalui nur alquran, pikirannya menjadi jernih, al-hasil mendapat ilham dapat membedakan antara yang hak dan batil (al-furqon).
Kedua, bersyukur dengan datangnya ramdhan. Syukur adalah ucapan terima kasih kepada Allah karena telah dipertemukan dengan bulan suci Ramadhan. Syukur erat kaitanya dengan dzikir. Oleh karenanya, Allah menyampaikan firman-Nya, karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat pula kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku. QS. al-Baqarah: 152. Munculnya syukur karena dzikir atau mengingat terhadap Allah swt. Mengingat melalui lidah dengan memuji Allah (tahmid, tasbih, dan tahlil). Mengingat dengan pikiran dan hati melalui mencurahkan perhatian terhadap tanda-tanda kebesaran Allah (datangnya bulan suci Ramadhan). Ingat melalui anggota badan dengan melaksanakan perintah Allah dalam bentuk amal kebajikan. Segala perbuatan di atas dilaksanakan, tentu Allah akan ingat kepadamu. Ini mengisyaratkan kebersamaan Allah bersama orang-orang yang senantiasa mengingat/dzikir kepada-Nya. Jika sudah demikian, maka Allah akan selalu bersamanya dalam keadaan suka dan duka. Kemudian bersyukurlah kepada-Ku dengan hati, lidah, dan perbuatan niscaya akan ditambah nikmat Allah terhadapmu. Sedangkan bila ingkar terhadap nikmat tersebut, sungguh Allah menjanjikan siksa.
Allah menganjurkan agar mengingat Allah terlebih dahulu melalui dzikir. Karena mengingat Allah lebih utama dibabanding syukur terhadap nikmat yang diberikan. Ini menunjukan melalui dzikir hati akan tenang, pikiran menjadi jernih, dan bermuara pada syukur terhadap segala nikmat yang dikaruniakan Allah terhadap manusia. marhaban ya Ramadhan, karena disana terdapat kesadaran hati yang tinggi untuk mengingat Allah dan hadirnya syukur atas nikmat tersebut.
Ketiga, membaca syahadat/mengesakan Allah. Bersyahadat adalah mengesakan Allah. Esa disini bukan hanya sekadar meyakini wujud Allah yang tidak berbilang, tidak berunsur, tidak beranak dan tidak pula diperanakan akan tetapi tidak mempersekutukan-Nya dalam beribadah. Contoh tidak menyekutukan-Nya dalam ibadah, yaitu tidak pamrih, tidak berpecah belah dalam membina hubungan di masyarakat, tidak saling berseberangan dan boikot sehingga runtuhnya sendi kesatuan dan persatuan masyarakat yang bermuara pada bangsa dan negara.
Setidaknya terdapat tujuh sifat Allah yang dipersaksikan keesaan-Nya, disebut sifat ijabiyah. Tujuh sifat ini menjadi modal manusia menggapai makna syahadat yang tidak hanya sebatas ucapan, melainkan syahadat tindakan. Berikutu tujuh sifat ijabiyah, yaitu; kodrat (kekuasaan), kehendak, pengetahuan, hidup, pendengaran, penglihatan, dan kalam. Baik dan buruk seseorang banyak didasari atas tujuh sifat di atas yang tidak selaras dengan tuntunan-Nya. Manusia memiliki kehendak, tetapi kehendak tersebut tidak disesuaikan dengan kemampuan yang dimiliki. Kalam/bicara, manusia memiliki potensi bicara tetapi pembicaraan yang tidak didasari dengan pengetahuan, ilmu, dan aturan Tuhan tentu akan berpotensi hadirnya kebencian. Manusia diberi indra penglihatan dan pendengaran tetapi hanya digunakan setengah-setengah akhirnya hidup dan kehidupanpun demikian, setengah-setengah. Momentum hadirnya bulan suci Ramadhan alangkah bahagianya bila digunakan untuk mengasah hati, pikiran, dan perbuatan sehingga hadir kesalehan spiritual dan kesalehan sosial.
Keempat, memperbanyak istighfar. Ramadhan disampaikan sebagai bulam maghfiroh bulan ampunan Allah. Ampunan tersebut tentu akan didapatkan bagi siapa saja yang memohon ampunan melalui perbaikan diri. Langkah perbaikan ini dalam Bahasa agama disebut taubat. Taubat berasal dari kata taba berarti Kembali. Manusia tercipta dalam keadaan suci, bersih, tanpa dosa (laksana kertas putih). Melalui itu ia dekat dengan Allah swt. Tetapi pelanggaran berupa dosa menyebabkan ia jauh dari Allah dan Allah pun mejauhinya.
Perihal pelanggaran manusia tentu selaras dengan firman Allah QS. al-A’raf ayat 19, yaitu;
وَيٰٓاٰدَمُ اسْكُنْ اَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ فَكُلَا مِنْ حَيْثُ شِئْتُمَا وَلَا تَقْرَبَا هٰذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُوْنَا مِنَ الظّٰلِمِيْنَ
Artinya: Hai Adam, tinggalah dengan tenang engkau dan pasanganmu di surga, makanlah kalian berdua apa yang kalian kehendaki, tapi jangan dekati pohon ini karena itu akan mengakibatkan kalian berdua termasuk kelompok makhluk yang aniaya (QS. al-A’raf [7]:19).
Adam dan Hawa hidup tenang di surga mendapat kebutuhan yang cukup sandang, papan, dan makanan. Tetapi akibat bujuk rayu dan tipu muslihat Iblis mereka melanggar perintah akhirnya menjauh dari Allah. Allah pun menjauh dari mereka berdua. Peristiwa jauhnya Adam dan Hawa dari Allah ini ditengari dari ayat yang menyatakan, sebelum mencicipinya, Allah menunjuk ke pohon ini, tetapi setelah terjadi pelanggaran, pohon ditunjuk dengan kalimah itu (QS. al-A’raf [7]: 22)
وَنَادٰىهُمَا رَبُّهُمَآ اَلَمْ اَنْهَكُمَا عَنْ تِلْكُمَا الشَّجَرَةِ وَاَقُلْ لَّكُمَآ اِنَّ الشَّيْطٰنَ لَكُمَا عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ
Artinya: Tuhan mereka berseru/meneriaki mereka berdua bahwa: Bukankah Aku telah melarang kalian berdua (mendekati) pohon itu dan Aku telah menyampaikan kepada kalian berdua, bahwa setan merupakan musuh yang nyata bagi kalian berdua.
Menyeselai perbuatan, membulatkan tekad untuk Kembali kejalan yang benar, yaitu Kembali pada tempat semula dekat dengan Allah disebut taubat. Substansi taubat adalah penggabungan antara tiga hal, yaitu 1. Menyadari kesalahan dan hadirnya penyesalan terhadap perbuatan tersebut. 2. Membulatkan tekad untuk tidak mengulanginya lagi. 3. Memohon ampun kepada Allah dengan banyak membaca istighfar serta memohon ampunan terhadap manusia atas kesalahan mengembalikan hak yang dirampas dan kerelaan. Inilah momentum marhaban ya Ramadhan hadirkan istighfar untuk menggapai kesalehan spiritual dan kesalehan sosial.
Kelima, meraih surga melalui sedekah. Perihal meraih surga nabi Muhamad memberikan pesanya; hindarilah neraka walau dengan separuh kurma. Maksud pesan beliau adalah jangan segan melakukan amal kebajikan yang dapat menghindarkan dari api neraka walau terasa kecil, sedikit, dan ringan. Karena perbuatan kecil lebih baik daripada tidak sama sekali. Sedikit lama-lama menjadi bukit, demikian tutur peribahasa. Beliau lantas menyampaikan pesanya; suatu ketika ada seorang dalam perjalanan mengalami kehausan. Ia menemukan sumur lalu turun mengambil air dan meminumnya. Ketika ia selesai, ia menemukan seekor anjing yang mengeluarkan lidahnya ke tanah yang basah akibat kehausan. Orang itu berbisik dalam hatinya, bahwa anjing telah mengalami kehausan sebagaimana aku tadi mengalaminya. Maka ia turun Kembali ke sumur dan memenuhkan alas kakinya dengan air lalu ia memberi minum anjing itu. Allah mensyukuri (amal) orang itu sehingga ia diampuni-Ny.
Mendengar penjelasan di atas sahabat bertanya, Apakah kami memperoleh ganjaran menyangkut sikap baik terhadap binatang? Nabi menjawab; ya benar! Setiap kebaikan yang diberikan kepada makhluk hidup ada ganjaranya (HR. Bukhari Muslim). Semoga kita semua dapat memetik kebaikan pada momentum Ramadhan. Marhaban ya Ramadhan.
Wallahua’lam bi showab
Pejuang Ende
Abdullah Jia, Pejuang Ilmu di Pascasarjana IAI Tribakti Asal Ende 30 Mei 2022 Assalamu’alaikum Wr. Wb. Nama saya Abdullah Jia, kelahiran Wolooja, pada 24 Mei 1998. Saya adalah seorang perantauan dari Desa Rindiwawo, Kec. Wolowaru, Kab. Ende, Prov. Nusa Tenggara Timur. Ini adalah cerita dan kenangan singkat saya ketika menjadi seorang perantauan yang ingin menuntu ilmu di Program Magister Intstitut Agama Islam Tribakti Lirboyo Kediri. Dalam rangka rekrutmen mahasiswa baru Program Magister Intstitut Agama Islam Tribakti Lirboyo Kediri untuk angakatan 2022-2023, sedikit ada kenangan tersendiri. Ikut tes masuk gelombang pertama rasanya seru juga. Waktu itu tes masuknya lewat online karna masih dalam suasana Pandemi Covid-19. Hal yang tidak terlupakan adalah ketika jadwal tes onlinenya saya lupa dan saya tidak mempersiapkan diri yang lebih matang untuk menghadapi ujian masuk program magister tersebut. Ada teman yang baik hati, ia menelpon saya dan memberitahukan bahwa tes masuknya akan...

Komentar
Posting Komentar