Jamuan Tuhan

===================

 

Kang Tama


New City

 

Mendegar kata jamuan maka persepsi yg terbangun dalam benak kita adalah aneka makanan dan minuman yg siap dinikmati. Makan dan minum merupakan kebutuhan pokok manusia untuk mempertahanakan hidupnya. Tanpa asupan makan dan minum yg sesuai, tentu manusia akan mengalami masalah di kemudian hari. Baik menyangkut aspek bilogis maupun aspek psikologis. Kegiatan makan dan minum, merupakan aspek fitrah manusia. Keadaan demikian dapat dipahami bila kita lihat pada proses penciptaan manusia. Proses penciptaan manusia yg berbahan baku tanah, menunjukan ketergantungan manusia pada aspek material Q.S al Rum ayat 20 dan Q.S al Hijir ayat 28. Pada dua ayat tersebut manusia dipahami dan dinamai sebagai *al Basyar*, akan berbeda maknanya apabil manusia dipahami darI segi *al insan, al naas* . Dengan demikian melalui kosa kata al Basyar dapat dipahami hal hal yg berkaitan dengan aspek fisik, Jasmani, raga, serta sifat sifat dan perbuatan yg pada umumnya dilakukan manusia. Secara sederhana sifat dan perbuatan tersebut adalah makan, mium, tidur, berteman, bersenda gurau, tertawa, berumahtangga, memiliki keturunan, pelupa, berbuat khilaf, hidup dan mati (lihat Abudin Nata Sosiologi Pendidikan Islam).

 

Dalam jamuan-Nya, manusia diberikan berbaagai menu untuk dinikmati dan dikonsumsi sebagai kebutuhanya.  Diantara menu yg bisa disantap setiap bersin adalah kalimat *alhamdulillah*. Sebagai seorang hamba yg taat beribadah, ketika bersin disunahkan mengucapkan pujian kepada Tuhan. Karena dikatakan dalam ilmu medis, ketika manusia sedang bersin seluruh anggota tubuh tidak berfungsi, oleh karenanya disunahkan menucapkan sukur kepada Tuhan, yg telah memberikan nikmat hidup kembali. Menu alhamdulillah tidak hanya cocok dikonsumsi setelah bersin saja, namun sangat cocok dikonsumsi seseorang setelah mendapatkan rezeki. Bahkan dalam firman-Nya Tuhan akan memberikan tambahan terhadap orang orang yg senantiasa bersyukur. Tambahan tersebut bisa berupa, nimat sehat, rezeki, sahabat yg baik, dan seterusnya.

 

Dalam jamuan Tuhan, manusia disilahkan menikmati apa saja, yg telah disajikan. Kalau didalam jamuan pesta pernikahan misalnya, seseorang yg berlebih mengambil menu yg dihidangkandia, tentu akan kurang etis dan tidak sopan. Bahkan dalam pandangan medis bisa membahyakan kesehatan. Namun dalam jamuan Tuhan, manusia diberi kebebasan untuk menikmati tanpa adanya efek samping yg berbahaya. Mau mengambil menu, tahmid, tahlil, istigfar, dll. Selamat memikmati jamuan Tuhan, semoga dapat mengambil sesuai selera yg diinginkan. Bila tak mampu meraihnya karena jauhnya tempat duduk dan kurang etis bila mengulurkan tangan untuk mengambil gunakan metode dan cara yg cerdas, melalui membaca dan menulis.

 

*Radar Dhuha*

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pejuang Ende

PERAN PENYULUH DALAM MENGAWAL MANDATORI HALAL