Dikira

=================


Kang Tama

New City

 

Banyak yang mengira setiap amal perbuatan yg nyaman, enak, mendatangkan gaji tiap bulan dan sebelum berangkat -katanya diniati ibadah- dari rumah yakin ini adalah ladang akhirot. Bila kita gali lebih dalam kebanyakan dari kita menyukai sesuatu yg nyaman, padahal kenyamanan sulit menghasilkan akhlak yg sebenarnya. Lantas apakah kita tidak boleh berada pada posisi nyaman, tentu boleh. Namun kalau kita telisik jauh kebelakang, mengapa Bilal mampu mencapai kedudukan mulia disisi Tuhanya -tidak lain karena himpitan batu dan cambuk penganiayaan dari lingkungan- begitu berat dan dahsyatnya ujian Bilal, namun belum pernah terucap ini adalah nilai Ibadah.

 

Teringat ucapan teman saya dari Blitar, Mas kita itu kadang terlalu percaya diri (PD). Sahut saya, lho kenapa Pak ? Jawab; kita itu merasa kerja yg kita lakukan bernilai ibadah, padahal ucapan ibadahnya hanya dilisan saja. Niat dan tujuan sebenarnya adalah pertama demi gaji, kedua takut dengan atasan, ketiga biar tampil keren, keempat mencari kesibukan. Bahkan yg lebih mengejutkan kalau tidak begini apa bisa makan dan seterusnya.

 

Saya hanya dapat bergumam, surga itu memang mahal, tidak serta merta aktifitas yg kita lakukan mengandung nilai ibadah. Dalam sebuah sabdanya Ikhlas itu tidak ada tendesi lain kecuali ingin dipuji oleh Tuhan. Dapat dipahami kalau aktifitas manusia masih memiliki tujuan dan tendensi bukan kepada-Nya, tentu hal itu bukan mengandung nilai ibadah. Dan mengapa surga mahal, karena untuk mencapai surga tentu harus ada yg dikorbankan. Dapat dilihat bagaimana sedekah yg dilakukan oleh Nabi Ibrahim, sampai sampai Malikat penghuni langit berdecak kagum melihat pahala yg diangkat ke langit. Sedangkan Nabi Ayyub diceritakan rumahnya yg megah disediakan ruangan khusus untuk menjamu sarapan fakir miskin yg mau singgah.

 

Begitulah keadaan ahli ibadah, rasanya tidak perlu dijelaskan lagi, karena sudah sangat jelas.

 

Radar Dhuha

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pejuang Ende

PERAN PENYULUH DALAM MENGAWAL MANDATORI HALAL