*Berpolitik Model Fir'aun*

Kang Tama

New City

 

Mendengar kata Fir'aun, tentu yg terbayang dalam benak kita adalah pemimpin arogan, melampaui batas, sombong, fasik, berbuat rusak, membuat dosa, akhir hayat binasa dengan mengenaskan. Sifat arogan yg dimiliki Fir'aun salah satunya adalah dengan mengeluarkan paket kebijakan membunuh bayi laki laki yg terlahir dari Bani Israil. Keadan demikian dipicu dari informasi, bahwa kekuasaan Fir'aun akan jatuh ditangan keturunan bani Israil. Mengetahui hal itu Fir'aun mengambil langkah antisipasi dengan mengabisi seluruh keturunan Bani Israil dengan menyiksa, mengintimidasi dan langsung membunuh.

Tidak berhenti disitu Fir'aun terus melakukan praktik kepemimpinannya dengan sifat sombong dan congkak. Sikap sombongnya ditunjukan dengan proklamasi pengakuan diri sebagi Tuhan. Sungguh kesombngan yg meampaui batas, keadaan demikian dipicu keunggulan kekuatan fisik, pikiran dan kekuasaan sebagai raja yg ditakuti rakyatnya. Baca surat Yunus ayat 83 (Sungguh, Fir'aun itu benar benar telah berbuat sewenang-wenang dibumi, dan benar-benar termasuk orang yang melampaui batas).

Kesombongan dan sikap yg melampaui batas menjadi tabiat, karakter, serta model kepemimpinan Fir'aun. Yang dimaksud sikap menyombongkan diri ini adalah menolak dengan keras ajakan dan nasihat untuk kembali ke jalan yg benar oleh Musa as, tak heran memang secara psikologis orang yg memiliki kecukupan harta, fisik, dan kekuasaan biasanya tidak mudah percaya terhadap informasi, apalagi iformanya berada jauh dibawahnya secara strata sosial, ekonomi dan poitik. Ar Razi dalam tafsirnya mengatakan bahwa yang dimaksud melampaui batas adalah sering membunuh, menyiksa siapa saja yg menentang apa yg dititahkan kepada rakyatnya.

Sikap meremehkan atau mendiskreditkan orang lain (lembaga yg dipandang tidak sesuai keinginaya) kemudian disusul membunuh (berkata-kata tidak pantas sebagai pejabat dapat membunuh karakter person, lembaga) menyiksa siapa saja -baik secara ucapan, tindakan, dan perbuatan- menentang berbagai pedapat orang lain yg dirasa tidak cocok dengan cara pandang pribadinya tanpa dasar keilmuan yg jelas, adalah sikap Fir'aun yg melampaui batas.

Keadaan Fir'aun yang arogan, sombong, serta melampaui batas tersebut , dapat menimpa siapa saja. Baru-baru ini beredar seorang politisi DPR RI yg melontarkan kata-kata tidak pantas kepada lembaga tertentu. Tulis Ainun Naim dalam artikelnya di medos, *dia menghebohkan dengan kata yang sangat tidak etis bangsat* kata ini ditujukan kepada kementrian agama. Dia menyebut semua orang kementrian agama bangsat.

Kejadian tersebut memancing banyak reaksi mulai dari akademisi -di kementrian agama khususnya-, DPP AGPAII -asosiasi guru pendidikan agama Islam Indonesia, Penyuluh agama Islam se-Provinsi lampung. Dimana isi peryataanya adalah mengecam keras sikap anggota dewan tersebut. Dan mengusut agar segera minta maaf kemudian menegur melalui dewan kehormatan DPR RI.

 

Dari beberapa fenomena diatas kejadian Fir'aun dengan segala sifat arogan dan kesombonganya memberikan pelajaran kepada kita. Menurut peneitian yg dilakukan oleh Fauzan Adhim, sikap Fir'aun dalam perspektif psikologi; Dalam pandangan psikologi dikenal istilah narsistik. Narsisme dipahami sebagai adanya kencederungan seseorang untuk merasa bangga terhadap diri sendiri dan merasa paling sempurna.Fir’aun sebagai tokoh antagonis dalam konteks ini merupakan sosok yang memiliki prilaku dan sifat yang dipenuhi dengan obsesi, ambisi dan hasrat pada diri sendiri yang kemudian mengabaikan hak-hak dan kepentingan orang lain -Baca Fitri dalam psikolgi, dampak penyebab narsistik- termasuk lalai mengucapan kata-kata kotor kepada kementrian agama.

 

Bila kita kaitkan Kepemimpinan Fir'aun vs Kepemimpinan A. Dahlan sebagai pejabat yg katanya mewakili rakyat meminjam bahasanya Masiton Pasaribu kami adalah wakil rakyat dan mewakili rakyat. Fir'aun lebih unggul karena memimpin sejak moyangnya bahkan membangun sebuah monumen yg menjadi keajaiban dunia. Sedangkan A.Dahlan belum mengukir prestasi yg bersifat monumental, bersejarah dan menjadi keajaiban dunia. Namun kedua pejabat ini memiliki penyakit yg hampir sama yaitu, narsisitik. Merasa bangga dengan diri sendiri sehingga melihat orang lain-kementrian agama- tidak berharga , jauh dari yg diharapkan. Sedangkan menurut Dr. Ainun Naim orang demikian disebut Politisi itu memiliki semuaya kecuali cermin, sehingga melihat semuanya jelek kecuali dirinya sendiri.

 

*Radar Dhuha*

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pejuang Ende

PERAN PENYULUH DALAM MENGAWAL MANDATORI HALAL